Musta’in Ahmad :  ” Sosialisasi Penguatan Moderasi Beragama Bagi Ketua FKUB Untuk Merawat Kerukunan “

 NASIONAL


LINTASSOLORAYANEWS.COM / SEMARANG – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama  Provinsi Jawa Tengah Musta’in Ahmad mengatakan bahwa dalam rangka mensukseskan Program Strategis Kementerian Agama Republik Indonesia, Kantor Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah  akan menyelenggarakan kegiatan Sosislisasi Penguatan Moderasi Beragama Bagi Pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama ( FKUB ) dan Admin Kerukunan Umat Beragama ( KUB ) dengan mengambil Tema *Peran Strategis FKUB Dalam Gerakan Moderasi Beragama* Kamis -Jumat ( 17-18/8/2023 ) di Hotel Novotel Semarang.                  

Menurut Musta’in Ahmad,  dalam sosialisasi  Penguatan Moderasi beragama ini  pihaknya  menekankan pentingnya melakukan Penguatan  Moderasi Beragama dan implementasinya itu menjadi gerakan bersama dengan FKUB Kabupaten/ Kota di Jawa Tengah.

“Moderasi beragama merupakan salah satu dari tujuh program strategis Kementerian Agama yang harus disosialisasikan dan disukseskan, mengingat akhir-akhir ini banyak sekali isu radikalisme dan intoleran. Oleh karena hal tersebut, kami memandang perlunya Penguatan Moderasi Beragama ini untuk menangkal segala bentuk isu yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa sekaligus untuk merawat kerukunan” katanya.

Dikatakan bahwa  isu-isu radikalisme dan intoleran memang merupakan isu yang harus dieliminir dan dihilangkan sejak dini dengan melibatkan FKUB Kabupaten/Kota di Jawa Tengah.

“Kami memandang penting dan strategis  dengan penyelenggaraan kegiatan Penguatan  moderasi beragama ini. Terlebih karena kegiatan ini diikuti oleh seluruh ketua FKUB Kabupaten/Kota di Jawa Tengah dan Admin KUB  yang ada di Kankemenag dengan harapan  doktrin-doktrin radikalisme yang akan menimbulkan sikap intoleran dapat ditanggulangi” katanya.

Kepada sejumlah awak media Musta’in Ahmad mengajak kepada semua pihak  khusus di lingkungan Kankemenag terutama di lembaga pendidikan keagamaan  agar terus menjaga anak didiknya dari  hal-hal yang dapat merusak dan menghancurkan keutuhan dan kerukunan bangsa.

“Kami tekankan kepada Kepala Satuan Pendidikan  agar selektif dalam memilih guru, khususnya guru agama. Pastikan mereka tidak berpaham ekstrim, baik  kanan maupun kiri.  Oleh karena itu, penting bagi setiap tenaga pendidik dan kependidikan untuk mengenal dan menerapkan moderasi beragama. Kepada pengurus FKUB agar implementasi dan Penguatan moderasi beragama ini menjadi gerakan bersama” katanya.

Sementara itu Ketua FKUB Provinsi Jawa Tengah KH.Taslim Syahlan di  LPPM UIN Surakarta Rabu ( 16/8/2023 ) memberikan apresiasi yang tinggi kepada Kantor Wilayah Kementerian Agama yang akan menyelenggarakan sosialisasi penguatan Moderasi Beragama bagi Ketua FKUB Kabupaten/Kota se Jawa Tengah.  

Menurut Taslim Syahlan ada empat indikator moderasi beragama yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan dan akomodatif terhadap budaya lokal.

“Disamping itu, kita juga harus berpegang teguh kepada Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Undang-undang 1945, “ ujar Taslim Syahlan yang juga sebagai Sekjen Asosiasi FKUB Indonesia ini.

Disampaikan untuk memahami pentingnya Penguatan moderasi beragama  memang dibutuhkan rasa atau sense agar memiliki keseimbangan sikap tidak perlu muluk-muluk dengan analisis jika rasa kita dalam beragama dan berbangsa telah berkurang atau bahkan hilang sama sekali maka semua hal yang dilihat akan menjadi  terasa hambar sehingga wajar muncul pandangan atau narasi yang selalu negatif” katanya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menurut Taslim Syahlan  adalah sosok nyata bagaimana menggunakan rasa dalam beragama dikaitkan dengan hubungan antara sama yang berbeda suatu ketika nabi sedang bercengkrama bersama para sahabat, kemudian ada sekelompok orang lewat sambil memanggul jenazah orang yang beragama Yahudi lalu Nabi secara spontan berdiri sebagai bentuk hormat tapi tindakan nabi itu justru mendapat protes dari sahabatnya, “Wahai Nabi kenapa engkau berdiri, bukankah jenazah itu seorang Yahudi?”.  “Betul meski dia Yahudi setidaknya ia saudara seorang manusia yang perlu kita muliakan jawab Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

“Sikap humanis Rasulullah tersebut tentu berdasarkan dari rasa empatinya yang begitu dalam kepada sesama, dan  hal ini yang diteladankan juga oleh Ali bin Abi Thalib ra melalui pernyataan yang sering dikutip oleh Gus Menteri Yaqut Cholil Qoumas, bahwa mereka yang tidak seiman adalah saudara dalam kita  kemanusiaan. Konteks dalam pernyataan Ali bin Abi Thalib ra tersebut jelas sekali didasarkan pada perlunya orang beragama tetap mengoptimalkan fungsi hati yang diantaranya yang diantara fungsinya untuk berempati kepada sesama, “ kata Taslim Syahlan.

Selain Penguatan moderasi beragama bagi ketua FKUB sejalan dengan arah dan kebijakan Kantor Kemenag pentingnya meningkatkan toleransi dalam kehidupan beragama di masyarakat.

“Bangsa kita memang dihuni oleh masyarakat yang beragam baik agama,  keyakinan, budaya, adat istiadat, suku bangsa, warna kulit dan sebagainya serta faktanya hingga saat ini secara umum Indonesia tetap rukun damai dan toleran namun belakangan ini banyak pemahaman sikap dan praktik ekstrim baik kanan maupun kiri terus bermunculan.” paparnya.

Ditingkat global saat ini juga membutuhkan semangat toleransi untuk menjaga perdamaian dan kerukunan. Di beberapa belahan dunia masih saja terjadi pertikaian yang menimbulkan krisis kemanusiaan akibat paham sikap dan praktik beragama secara berlebihan seperti klaim-klaim kebenaran secara sepihak.

“Oleh karena itu sebagai bangsa yang besar,  Indonesia berpeluang menjadi parameter toleransi dunia, sebagai best practice tentang toleransi di masyarakat  yang harus terus  digaungkan agar dipahami dunia. Tentu semua ini tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah.” katanya.      

Itulah sebabnya pemerintah perlu  bersinergi dengan stakeholder termasuk ormas keagamaan tidak hanya Islam tapi semua agama sehingga  terbangun sikap  toleransi antar umat beragama di masyarakat.

“Menjadi momentum penting Penguatan moderasi beragama itu  untuk konsolidasi budaya dan merekatkan serta menguatkan kembali pentingnya toleransi di  masyarakat.” pungkasnya. ( Moch.Isnaeni)

Author: 

Related Posts

Leave a Reply