Kondisi “Supply and Demand” Yang Tidak Seimbang Sebabkan Harga Beras Cenderung Meninggi

 EKONOMI & BISNIS

LINTASSOLORAYANEWS.COM / KLATEN  –  Gejolak kenaikan harga beras akhir akhir ini terjadi memang karena tidak adanya keseimbangan antara ” supply and demand”. Dimana stock beras saat lebih kecil daripada permintaan. Rendahnya stock beras ini lebih banyak disebabkan produksi padi di tingkat petani saat ini relatif kecil yang disebabkan oleh dampak dari cuaca ekstrim panas yang berkepanjangan sebagai efek dari El Nino.

Demikian rangkuman dari pernyataan seorang pengusaha penggilingan beras, “Sekar Putri” di desa Karanganom kecamatan Klaten Utara, Joko Riyanto Nugroho kepada Lintassolorayanews.com hari Senin (16/10/2023).

Lebih lanjut dijelaskan Joko Riyanto, kelangkaan beras saat ini bisa juga disebabkan panen yang tidak berhasil karena kurangnya pemupukan dan pengobatan terhadap tanaman padi. 

” Para petani banyak mengeluh karena kelangkaan pupuk bersubsidi di pasaran dan juga harga obat obatan pertanian juga tinggi sehingga para petani mengurangi kuantitas penggunaan  pupuk dan obat obatan, akibatnya panen kurang berhasil..” ungkap Joko Riyanto.

Lebih jauh  dikatakan Joko Riyanto,  saat ini penurunan produksi di tingkat petani sudah mencapai 30%. Untuk itu, Pemerintah harus berusaha meningkatkan produksi beras di tingkat petani dengan program program intensifikasi tanaman padi di kalangan petani yang ditunjang dengan  pemberian subsidi pupuk dan obat obatan yang memadai.

Disamping itu, pemerintah juga harus menjaga stock beras yang memadai dengan menyerap hasil panen dari para petani, jangan mengandalkan impor beras dari luar negeri.

” Hindari langkah pengamanan stock beras  dalam negeri dengan langkah impor beras dari luar negeri. ..” harap Joko Riyanto.

Terkait harga beras yang relatif tinggi, Joko Riyanto menyatakan antara lain disebabkan oleh kondisi saat ini dimana sudah banyak berdiri pabrik pengolahan beras dengan skala besar dan dengan mesin yang makin canggih sehingga kualitas beras juga semakin baik, wajar jika harga mengikuti kualitas.

” Sudah sekitar dua tahun ini, harga gabah di tingkat petani sudah relatif tinggi karena terserap oleh pabrik pabrik beras berskala besar ini. Meski pemerintah menggelontorkan bantuan pangan non tunai, harga gabah maupun beras masih relatif tinggi. Apalagi dengan kondisi cuaca ekstrim seperti saat ini..” jelas Joko Riyanto

Sementara untuk pengadaan beras pada usaha penggilingan berasnya, Joko Riyanto mengaku selama ini sudah memiliki mitra  binaan penggilingan padi di daerah Sukoharjo, Karangdowo, Cawas bahkan Sragen yang siap menyetor berasnya ke penggilingan beras miliknya.

” Selama ini kita sudah memiliki mitra binaan di daerah Sukoharjo, Karangdowo, Cawas bahkan Sragen untuk penyediaan beras  premium yang akan kita lempar  ke pasar Jakarta dan sekitarnya..” pungkas Joko Riyanto. (Jon’s)

Author: 

Related Posts

Leave a Reply