Jelang Pindah Ke Pasar Gede, Pedagang Percantik Tenant Dengan Etalase Secara Swadaya

 EKONOMI & BISNIS

LINTASSOLORAYANEWS.COM / KLATEN – Proyek Revitalisasi Pasar Tiga Lantai Kota Klaten sudah selesai akhir bulan Mei lalu. Dan dalam waktu dua bulan ini, Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (DKUKMP) Pemkab Klaten melakukan persiapan dan pengkajian penataan para pedagang yang akan segera menempati pasar yang baru selesai direvitalisasi tersebut.

Kepada Lintassolorayanews.com, Kepala DKUKMP Pemkab Klaten, Anang Widyatmoko menjelaskan bahwa rencananya mulai awal bulan Agustus tahun 2023 ini proses perpindahan para pedagang dari pasar darurat ke Pasar Gede sudah dimulai.

Namun di tengah rencana pemindahan para pedagang pasar kota Klaten dari lokasi pasar darurat di Jetak Karanganom ke bangunan baru pasar kota Klaten yang baru saja selesai direvitalisasi dan  sekarang dinamai sebagai Pasar Gede itu muncul kasak kusuk yang beredar diantara para pedagang itu sendiri.

Saat Lintassolorayanews.com sedang “ngangkring” di sebuah angkringan di dalam area pasar darurat hari Kamis (27/7/2023) sekitar jam 10 siang, terlihat ada beberapa pedagang yang sedang “rasan rasan” tentang rencana kepindahan mereka ke Pasar Gede besok.

Dari obrolan para pedagang tersebut terdengar keluhan dari para pedagang bahwa sebelum mereka menempati tenant mereka di Pasar Gede, mereka diminta membayar sejumlah Rp. 4.500.000 terlebih dahulu untuk pembuatan partisi pembatas antar tenant pedagang.

“Lha kalo cuma bikin pembatas dari bahan galfalum dengan ukuran seperti itu, kita bikin sendiri paling gak nyampai 2 juta biayanya. Kok ini kita diminta bayar 4,5 juta…” ujar salah satu pedagang.

” Mungkin kalau kita buat sendiri sendiri nanti gak rapi dan gak seragam, makanya ini dibikinkan oleh paguyuban. (Paguyuban Pedagang Pasar Gede, red)..” jawab pedagang yang lain.

” Tetapi biayanya itu lho..kok bengkaknya sampai 100%..kalau umpama kita bayar 2,5 juta  mungkin itu kita bisa menerima…” ujar pedagang tersebut.

Dari sebuah sumber yang tidak mau disebut namanya, Lintassolorayanews.com mendapatkan informasi bahwa partisi pembatas antar tenant pedagang tersebut rangkanya berbahan baja ringan, penutupnya berupa kawat strimin dan galfalum. Pembatas galfalumnya dengan tinggi sekitar 1 meter, lalu di atasnya dipasang kawat strimin. Sementara lapak pedagang itu sendiri berukuran 1,50 x 2 m.
Masih menurut sumber tersebut, semula para pedagang diminta membayar sejumlah Rp. 6 juta rupiah untuk biaya pembuatan partisi batas antar tenant tersebut. Namun entah karena apa, kemudian biaya diturunkan menjadi Rp. 4,5 juta.

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Gede, Suyadi saat dikonfirmasi Lintassolorayanews.com membenarkan bahwa paguyuban pedagang pasar gede yang mengkoordinasi pembuatan etalase atau pembatas tenant antar pedagang di pasar gede.

” Namun sifatnya sukarela, tidak ada paksaan untuk ikut secara kolektif yang dikoordinasi oleh paguyuban. Pedagang yang mau membuat sendiri etalase tersebut boleh boleh saja asal bentuk dan ukurannya seragam dengan etalase yang dibikin secara kolektif…” kata Suyadi.

Menurut Suyadi, dari sejumlah tenant pedagang sekitar 300 tenant, saat ini etalase atau pembatas antar tenant yang pembuatannya dikoordinasi oleh paguyuban saat ini sudah sebanyak 70 persennya.

” Bagi pedagang yang ingin membuat etalase atau pembatas sendiri, kita beri waktu sampai tanggal 8 Agustus harus sudah selesai. Karena nanti tanggal 10 Agustus sudah ditempati semua. Rencananya pasar gede ini akan diresmikan oleh pak presiden Jokowi nanti tanggal 13 Agustus…” lanjut Suyadi.

Terkait hal ini, Kepala  Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan Pemkab Klaten, Anang Widyatmoko saat dimintai tanggapannya memberikan jawaban bahwa hal itu sudah menjadi kesepakatan bersama para pedagang pasar gede yang dikoordinasi oleh Paguyuban Pedagang Pasar Gede. Dan tujuannya agar suasana pasar terlihat rapi dan bersih sehingga para pembeli merasa nyaman saat berbelanja.

“Bukan diminta Pak, tetapi kesepakatan diantara mereka sendiri, dibawah koordinasi oleh Paguyuban Pasar Gedhe. Hal itu adalah tindak lanjut hasil studi di Pasar Legi Solo dan Pasar Prawirotaman di Yogyakarta. Tujuannya biar rapi dan bersih, nanti pembeli bisa nyaman belanjanya…” jelas Anang Widyatmoko.

Lebih lanjut Anang Widyatmoko menjelaskan, beberapa waktu yang lalu kita mengajak para pedagang pasar gede untuk melihat lihat situasi dan kondisi pasar Legi di Solo dan Pasar Prawirotaman di Yogyakarta yang juga baru saja selesai direvitalisasi.

” Demi kenyamanan para pengunjung dan pembeli, maka bagaimana lapak dagangan dibuat rapi dan bersih. Ini disesuaikan dengan kondisi bangunan pasar gede yang sudah representatif dan terbesar di Jawa Tengah..” ungkap Anang Widyatmoko.

Sementara salah seorang aktifis pegiat sosial kemasyarakatan di Klaten, Sutrisno  saat dimintai tanggapan terkait persoalan tersebut mengatakan, Dengan adanya pasar gede yang baru diharapkan semua bisa mendapatkan kenyamanan dalam kegiatan ekonomi. Salah satu bentuk kenyamanan tersebut adalah fasilitas yang tertata rapi dan tidak mengurangi tujuan daripada kegiatan perekonomian di pasar yang memiliki ciri khas pasar itu sendiri.

” Paguyuban pedagang sebagai wadah untuk menyatukan visi dan misi dalam rangka wujud kan kenyamanan tersebut tentu sudah melakukan rembug dengan para pedagang. Ada pun pro dan kontra adalah hal yang biasa selama tidak bersifat mengganggu aktivitas perekonomian di pasar gede…” kata Sutrisno. (Jon’s)

Author: 

Related Posts

Leave a Reply